Wednesday, June 12, 2013

When I open my eyes

When I open my eyes by Karidah Nan Indah
When I open my eyes, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.
In the morning, when I open my
eyes...
...aya ku angger ka tempo ku juru panon, nu sakapeung tara kapalire endahna
Lah, geuningan ieu lembur teh...
Lembur kuring
Puncak Asih
Cisadap
Ciamis
Jawa Barat
My Land Is Your Land

Good Morning, Saung Mang Eboy...

Rebun rebun subuh tanggah ka langit bulan sapotong masih moncorong, 
nyangsang dilangit luhuran saung sawah tukangeun imah, 
saung mang Eboy...
 tungtung lembur kuring, 
Puncak Asih Cisadap Ciamis Jawa Barat...
Good morning.

Makam Jambansari Ciamis

Di tengah kota Ciamis tepatnya di Jl.
Achmad Dahlan, lingkungan Rancapetir, Lembursitu,
Kelurahan Linggasari, Kecamatan
Ciamis, tepatnya pada koordinat
0719'48,7'' LS dan 10820'54,2'' BT. terdapat komplek makam yang dikenal
dengan nama Jambansari. Situs ini berada pada ketinggian 233 m
di atas permukaan laut. Sekitar komplek
merupakan pemukiman penduduk
kecuali di sebelah selatan yaitu berupa
sawah. Situs ini merupakan kompleks
makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Bupati Ciamis ke-16,
yang berkuasa dari tahun 1839 - 1886.
Situs berada di lahan seluas 4 hektar.
Pada lahan tersebut selain terdapat
kompleks makam juga terdapat tanah
persawahan. Komplek makam Bupati Ciamis yang dikelola oleh Yayasan
Kusumadiningrat ini dibangun pada
tahun 1872.
Kompleks Jambansari dikelilingi pagar
tembok yang tingginya sekitar 2 m.
Pintu gerbang untuk masuk ke kompleks makam Jambansari berada di
sisi timur, dengan bentuk bangunan
seperti telor. Untuk masuk ke komplek
makam melewati tangga trap. Di tengah
komplek makam terdapat bangunan
cungkup yang sangat kuat terbuat dari kayu jati. Atap cungkup berbentuk
limas. Di dalam cungkup tersebut
terdapat makam Kanjeng Prebu R.A.A.
Koesoemadiningrat, Bupati Galuh Ciamis.
Di sekeliling pemakaman terdapat
beberapa makam kerabat dan para keturunan Prebu.
Di dalam Komplek terdapat bangunan
penyimpanan benda-benda pusaka
seperti yoni, lingga, menhir, Ganesha,
gong, keris, keramik dan lain-lain. Selain
di dalam bangunan penyimpanan benda-benda pusaka, arca-arca juga
ada yang dikumpulkan di rerimbunan
pohon weregu di samping bangunan itu.
Total seluruh arca yang ada di kompleks
tersebut adalah 13 arca. Menurut
keterangan juru kunci makam, arca- arca yang terdapat di lokasi ini
dikumpulkan oleh R.A.A
Kusumadiningrat. Pengumpulan ini
dilakukan dalam rangka dakwah agama
Islam, sehingga bagi yang mempunyai
arca atau berhala diharuskan untuk dikumpulkan di lokasi tersebut. Arca-
arca yang terdapat di lokasi ini di
antaranya berbentuk arca megalitik,
arca tipe Pajajaran, Nandi, Ganesha, dan
lingga. Selain itu di lokasi ini juga
terdapat lumpang batu dan lapik arca Dengan mengunjungi kompleks makam
ini sebetulnya para peziarah akan
mendapatkan dua informasi. Pertama
mengenai sejarah perjuangan RAA
Kusumadiningrat, dan kedua pola
islamisasi yang dilaksanakan oleh RAA Kusumadiningrat. Bagaimana beliau
menyikapi terhadap religi terdahulu
tercermin dari kondisi arca-arca Hindu
yang terkumpul di kompleks makam
tersebut. Pengembangan ke aspek
wisata ziarah di situs ini sangat didukung dari keletakannya yang di
tengah kota serta tersedianya fasilitas
bagi pengunjung di lokasi itu.
(sumber:nanangbewos.blogspot.com/2008/jambansari-kota-bandung.html)

Mesjid Agung Ciamis

Mesjid Agung Ciamis by Karidah Nan Indah
Mesjid Agung Ciamis, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.
MASJID Agung Ciamis, yang berdiri megah di bagian
barat Alun-alun di pusat Kota Ciamis,
tidak hanya kelihatan anggun, dengan
arsitektur yang khas dan indah, tapi
juga cantik dan menarik untuk difoto
dengan disorot kamera. Sedap untuk dibidik dari berbagai sudut pandang.
Apalagi dilengkapi sorot cahaya yang
semarak. Halamannya yang sejuk ditumbuhi
puluhan pohon kurma dan pohon
palem lainnya. Dua menara tinggi
yang berdiri kokoh di halaman depan
masjid seperti penjaga abadi kubah
besar yang menjulang di atap masjid kebanggaan warga Tatar Galuh Ciamis
ini. Di balik kemegahan tersebut, ternyata
Masjid Agung Ciamis ini punya cerita
dan kisah yang menarik. "Masjid ini
pertama kali dibangun tahun 1882,
pada masa pemerintahan bupati Galuh
ke-16, Raden Adipati Koesoemahdiningrat, yang biasa
disebut Kanjeng Dalem," ujar Ustaz H
Wawan S Arifin kepada Tribun. Kanjeng Dalem, yang memerintah
Ciamis pada tahun 1839-1886, tidak
hanya membangun loji (Gedung
Negara), gedung kabupaten
(otonom), dan penjara dalam rangka
menata Kampung Cibatu menjadi ibu kota yang bernama Ciamis, tetapi juga
membangun masjid besar di bagian
ujung Alun-alun depan Gedung
Negara. Masjid besar tersebut
dibangun pada tahun 1882
bersamaan dengan pembangunan penjara, tak jauh dari masjid tersebut. Pada masa pemerintahannya, Kanjeng
Dalem tidak hanya membangun masjid
agung, tetapi juga membangun masjid
jami di tiap desa dan sekolah desa
bersamaan dengan program
penanaman kelapa di semua sudut desa pengganti tanam paksa (cultuur
stelsel). Masjid Agung ini dibangun di
atas tanah seluas 8.500 meter persegi,
dengan bangunan atap bentuk
kerucut dengan tiga tingkatan. Bentuk
atap tumpang, gaya khas Masjid Demak, itu mirip dengan Masjid Agung
Bandung (kini Masjid Raya Bandung)
saat pertama kali dibangun tahun
1812. "Atap Masjid Agung waktu dibangun
oleh Kanjeng Dalem persis atap
makam Jambansari yang sekarang
masih berdiri kokoh. Atapnya bentuk
kerucut," kata Wawan sembari
memperlihatkan dokumentasi foto Masjid Agung Ciamis dari masa ke
masa. Saat itu bangunan Masjid Agung
didominasi oleh kayu, terutama kayu
jati, dengan tiang tengah yang kokoh.
Namun saat Kanjeng Dalem meninggal
tahun 1886, pembangunan masjid
agung yang sudah berlangsung sejak tahun 1882 belum tuntas. Lalu
pembangunan Masjid Agung Ciamis ini
dilanjutkan oleh anaknya, Rd AA
Koesoemah Soebrata, sebagai bupati
Galuh ke-17. Pembangunan masjid tersebut baru
tuntas pada tahun 1902 sesuai
dengan tulisan yang tercantum pada
prasasti kayu yang dipasang di pintu
masuk masjid sebelah kanan yang
bertuliskan: Tanggal 30 Romadhon tahoen 1319 H/10 Djanoeari tahoen
1902 M Waktoe Boepati Kanjeng
Dalem Raden Aria Adipati Koesoemah
Soebrata. Arsitek pembangunan Masjid Agung
Ciamis ini adalah Pangeran Radjab dan
dibantu oleh ahli bangunan Alhari
Joedanagara. Waktu itu masjid agung
belum ada menaranya. "Sejak itu
sampai sekarang masjid sudah lima kali mengalami renovasi. Sampai
bentuk masjid sekarang yang sudah
tidak ada lagi bentuk aslinya dari
peninggalan Kanjeng Dalem," kata
Ustaz Wawan. Menurut Mang Endang Iskandar (68),
pengurus DKM Masjid Ciamis, renovasi
besar terpaksa dilakukan pada tahun
1958 karena waktu itu Masjid Agung
Ciamis dibakar habis oleh gerombolan
DI/TII. "Waktu itu Ciamis sedang bergolak.
Gerombolan DI/TII turun dari Gunung
Sawal dengan menelusuri aliran
Sungai Cileueur dan berhasil
menyerang Kantor Kodim (sekarang
Kantor Bupati Ciamis) yang berada tak jauh dari sisi Sungai Cileueur," tutur
Mang Endang. Setelah menyerang markas Kodim
Ciamis, gerombolan itu juga membakar
Masjid Agung Ciamis hingga luluh
lantak. "Entah apa tujuan gerombolan
DI membakar masjid. Mungkin untuk
menarik perhatian. Waktu itu saya masih remaja," ujarnya. Masjid pun dibangun kembali saat
pemerintahan Bupati Ciamis yang
ke-27 Rd Yoesoef Suriasaputra.
Bentuk atap masjid yang semula
kerucut yang menggunakan lapisan
kayu (terap) diubah jadi bentuk bulat berbahan seng. Di kiri kanan masjid
dibangun menara dengan atap bentuk
bulat, juga dari seng. Renovasi yang sempat menuai protes
adalah renovasi keempat pada masa
jabatan Bupati Ciamis H Momon
Gandasasmita SH (bupati Ciamis
ke-33). Bangunan masjid peninggalan
renovasi tahun 1958 diruntuhkan secara total. Dibangun masjid baru
yang lebih besar dan serba beton.
Kubah yang semula dari seng diganti
dengan coran tembok semen. Lantai tembok diganti jadi lantai
keramik. Jalan yang ada di depan
masjid ditutup dijadikan halaman
sehingga halaman masjid jadi luas dan
bersambung langsung dengan alun-
alun tanpa ada pembatas jalan. Dua menara peninggalan tahun 1958
diruntuhkan diganti satu menara yang
kecil dibagian depan masjid. Bentuk bangunan Masjid Agung
Ciamis yang kita kenal sekarang
adalah hasil renovasi kelima yang
dilaksanakan pada tahun 2002, saat H
Oma Sasmita SH MSi menjadi bupati
Ciamis ke-36. Dengan mengerahkan infak dari para PNS se-Ciamis yang
terkumpul sampai Rp 11 miliar, Masjid
Agung Ciamis dipermak besar-
besaran. Ada beberapa perubahan, mulai dari
pembuatan kubah utama yang lebih
besar dan tinggi menjulang dari serat
kaca tanpa meruntuhkan kubah lama.
Kemudian ditambah empat kubah
kecil masing-masing di tiap sudut atap. Lantai keramik diganti dengan granit
yang didatangkan khusus dari Italia. Di depan serambi masjid dibangun dua
menara tinggi yang kokoh berwibawa
yang dihubungkan dengan basement
yang berfungsi sebagai ruang kantor,
perpustakaan, dan ruang pertemuan.
Pada era pemerintahan Bupati Ciamis H Engkon KOmara (bupati Ciamis ke-37),
halaman dan pekarangan Masjid
Agung ini ditata. Yang cukup fenomenal adalah
penanaman 20 buah pohon kurma
yang kini tumbuh subur dan telah
menempatkan Masjid Agung Ciamis
sebagai masjid dengan koleksi pohon
kurma terbanyak di Jawa Barat. Dengan koleksi puluhan pohon kurma
ini tak hanya membuat suasana masjid
agung Ciamis yang sejuk, tetapi juga
semakin cantik menarik dan setiap
saat menjanjikan kesegaran dengan
tebaran oksigen yang diproduksi daun-daun kurma tersebut.
Sumber :
m.tribunnews.com/2012/08/12/masjid-agung-ciamis-tanpa-ban...
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

CIAMIS DALAM OLAHAN FOTO HDR SEORANG AMATIR & DOWNLOAD PHOTOMATIX HDR

      Mencoba membuat sesuatu akan kesukaan, Photografi awalnya mungkin semua orang hanyalah amatir.

      Lantas tentang kesukaan tidaklah mengenal akan batas batas Amatir atau seorang Profesional.

Keduanya pasti berusaha untuk mendapatkan suatu karya yang bagus ( indah ? ) dan pada akhirnya mau tidak mau harus di proses secara teknologi untuk dapat menghasilkan sesuatu yang lebih indah.

    

HDR adalah singkatan dari High Dynamic Range.

Dynamic Range adalah rentang kemampuan sebuah kamera merekan tingkat kontras.

Dalam fotografi HDR adalah foto yang diperoleh dengan mengkombinasikan beberapa

foto dengan tone yang bervariasi sehingga menghasilkan satu foto yang memiliki 

rentang tonal melebihi kemampuan asli kamera.




Dry Season, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Dry Season by Karidah Nan Indah

      1. Kita akan mengggabungkan beberapa foto sekaligus, gunakan tripod supaya hasil fotonya bagus.

Jangan mengganti nilai aperture dalam satu seri pemotretan HDR

      2.    Set kamera di mode aperture priority (A atau Av), dengan mode ini kita memilih aperture dan kamera-lah yang menentukan shutter speed.

      3.    Set fokus pada posisi manual focusing.

      4.   Gunakan matrix metering atau evaluative metering dimana kamera akan mengukur semua elemen dalam obyek foto sebelum menentukan berapa besaran eksposure.

     5.    Set automatic bracketing pada kamera untuk menghasilkan 3, 5 atau 7 buah foto dengan       shutter speed bervariasi.

     6.   Bagi yang hanya mempunyai kamera saku dan kamera yang tidak mempunyai Set Automatic Bracketing  jangan berkecil hati, kita bisa mencoba dengan mengatur nilai exposure yang berbeda,  meski masalahnya kita harus repot berulang ulang mengatur nilai exposure dalam tiap jepretan.


Ciamis adalah sebuah kabupaten di wilayah Jawa Barat.


Photomatix HDR adalah suatu  software editing foto.


Dan Amatir ialah Saya !!! 


Good Morning, Saung Mang Eboy... by Karidah Nan Indah

  
When I open my eyes by Karidah Nan Indah

 

When I open my eyes, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.


Mt. Ceremai, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Mt. Ceremai by Karidah Nan Indah 



















 

Every Morning, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Every Morning by Karidah Nan Indah

Twin Towers, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Twin Towers by Karidah Nan Indah

Mesjid Agung Ciamis, .photo by Karidah Nan Indah on a Flickr

Mesjid Agung Ciamis by Karidah Nan Indah


Makam Jambansari Ciamis by Karidah Nan Indah

Sarengenge, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Sarengenge by Karidah Nan Indah


I Saw The Sky, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

I Saw The Sky by Karidah Nan Indah


Saung Sawah, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Saung Sawah by Karidah Nan Indah

SAUNG, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

SAUNG by Karidah Nan Indah

KABUT GUNUNG SAWAL, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

KABUT GUNUNG SAWAL by Karidah Nan Indah

Islamic Centre Ciamis, a photo by Karidah Nan Indah on Flickr.

Islamic Centre Ciamis by Karidah Nan Indah


Langkah 1. Download Photomatix Pro
Langkah pertama kali adalah mendownload Photomatix Pro.
Anda bisa langsung download aplikasi Photomatix Pro dengan klik di bawah ini


Setelah mengintsalnya di komputer,anda sekarang siap menggunakannya.
Langkah 2. Menyiapkan 3 atau 5 foto dengan bracketing.
Langkah 3. Buka Photomatix Pro dan buka file anda
Saat Photomatix Pro terbuka, anda dihadapkan dengan menu utama
-Klik Load Bracketed Photos. Dengan mengklik pilihan ini, anda akan dihadapkan pada kotak dialog,
-Klik Browse. Pilih file foto yang tadi sudah anda siapkan
-Klik Load Bracketed Photos. Dengan mengklik pilihan ini, anda akan dihadapkan pada kotak dialog,
-Klik Browse. Pilih file foto yang tadi sudah anda siapkan.
Langkah 4. Mengisi beberapa pilihan. Kecuali anda memotret tanpa tripod /tripod tidak stabil saat memotret foto tersebut, pilihan Align Source Images tidak perlu dicentang. Opsi Remove Ghosts diperlukan kalau anda anda merasa ada pergerakan obyek diantara foto-foto tadi. Sementara opsi Reduce Noise diperlukan bila anda merasa menggunakan ISO yang lumayan tinggi.
-Klik Preprocess.
Langkah 5. Tone Mapping
Akan muncul pilihan utama: Tone Mapping atau Exposure Fusion, disini kita pilih Tone Mapping. Anda harus beberapa kali coba-coba disini sampai menemukan setting yang pas
Setelah puas, klik Process
Langkah 6. Kontras dan Sharpening
Kotak berikutnya yang muncul adalah Contrast, Color dan Shaprening. Silahkan diubah sesuai selera anda.
-Klik Done bila anda merasa puas.